
Sesosok pemuda, kurus kering..., berambut keriting, hitam dan legam...,matanya agak sipit memandang tajam ke arah bawah...nun jauh di bawah... terlihat aliran anak sungai yang menikung dan berliuk-liuk bagai barangsoai yang menari...., tiba-tiba matanya menengadah ke atas, tampak sosok awan putih yang ditimpa burung-burung hitam yang terbang bercanda ria...saling mengejar....
Itu semua tidak menggugah hatinya untuk meninggalkan kampung halamannya...demi mengejar cita-citanya meraih kehidupan yang lebih baik....apa pun akan dilakukannya, agar kehidupannya bisa lebih baik dari sekarang, di desanya...yang tandus dan kering...
badannya yang bertelanjang dada, coklat dan tampak mengkilat...tersengat mentari pagi membuat butir-butir keringatnya menetes deras ....sederas kegelisahannya pada kehidupannya yang tidak beranjak pergi ke atas....
Hatinya sudah bulat untuk mencari sesuap nasi di kota buat orang tuanya ....tidak ada ketrampilan yang dipikulnya....hanya semangat...semangat untuk bekerja dan meraih serupiah demi serupiah untuk ditabung bagi keperluan ibunya yang sudah tampak lebih tua dari usianya.....
Segala kesenangannya bermain petak umpet di desa, bermain layangan dan memancing akan ditinggalkannya.....entah untuk berapa lama....
Tiba-tiba terlintas bayangan seulas senyum yang merekah dari seorang gadis yang tersenyum manisss kepadanya....dengan sekuntum bunga di telinga kanannya, dia tampak berlari ....menghampirinya...tangannya lepas ingin merangkulnya.....namun tiba-tiba bayangan tersebut lenyap....hilang....buyar sudah lamunan Toro....sedih hatinya....tangannya terkepal....tegang...dan giginya tampak putih bergemeratak....
Bersambung......
Dengan segera Toro turun dari pebukitan dengan berlari...kencang...seakan-akan mengejar sang surya yang menyengat tubuhnya....peluh makin bercucuran membasahi celananya yang longgar dan kombor.....
Toro sudah tidak ingat lagi pesan dari ibunya yang mengingatkan dia untuk segera pulang ke rumah...sehabis belanja di pasar untuk membeli jahe dan kunyit untuk dibuat jamu awet muda ibunya....
Pikirannya sudah bulat-bulat untuk segera meninggalkan desanya....namun ....bila ingat ibunya yang tinggal seorang diri di rumah...hatinya jadi gundah dan bingung..... ayahnya sudah tiada sejak beberapa tahun yang lalu, saat Toro duduk di bangku Sekolah Dasar....
Tanpa disadarinya ada sesosok gadis yang mengintai tingkah lakunya di atas bukit tadi. Gadis itu seumur dengannya, sekitar 15 tahun....rambutnya dikucir dua...dan senyumnya selalu merekah melihat keperkasaan Toro yang diidam-idamkannya sejak mereka sama-sama duduk di Sekolah Dasar.....dan SMP.
Toro...idaman hatinya, selalu jadi juara kelas, sering membantunya mengerjakan PR Matematika dan pelajaran Bahasa Jawa... Bahkan kadangkala mata mereka berdua sering berbenturan saat mengerjakan PR bersama....mata ketemu mata....jatuhnya di hati juga...segar rasanya...plong....!
Tiba di tepi sungai...tanpa ba..bi...bu... Toro langsung melepas celananya...telanjang bulat dan langsung terjun ke dalam sungai yang airnya tidak terlalu deras...."byurrr...." segar perasaan Toro setelah bersentuhan dengan putihnya air surga....
Si gadis yang bernama Sri Rejeki tersebut terus memandang pemandangan yang langka tersebut tanpa berkedip, hanya kadangkala senyum simpul tersungging di bibirnya yang merah...kadang rona merah terbersit di lesung pipinya yang pipiet tersebut....